REALITA (sebuah hasil perjalanan potensia menuju aktualita)

Menjadi realita atau nyata merupakan proses peralihan dari aktualisasi potensi, sehingga sesuatu bisa kita sebut aktual. Manusia yang merupakan makhluk potensial dimana dalam proses hidup manusia mengaktualisasikan potensinya. Tapi sering kali manusia terhanyut dalam paradigma apa yang nyata menurut indera. Bahwasanya apa yang bisa ditangkap oleh indra itu yang ada.

Cara pikir filosofis dalam melihat realita, maka kita akan menemukan istilah bahwa kesadaran kita itulah yang hakikatnya nyata. Persepsi kita tentang sulit atau mudah dalam melihat suatu masalah bukanlah karena pada realitanya hal tersebut sulit atau, akan tetapi pada hakikatnya persepsi kita yang mengatakan ini sulit dan mudah. Hal ini membuktikan bahwa realitas yang sebenarnya/ kondisi objektif bukanlah apa yang dapat kita indrai semata, karena terbukti persepsi kita membentuk cara pandang kita dalam sebuah realitas.

Kebenaran objektif (kenyataan yang sebenarnya) adalah ketika ide dalam pikiran kita sesuai dengan realitas,  tapi jika ide tidak sesuai atau tidak berkorespondensi dengan realita maka kita sebut sebagai kebenaran subjektif. Ini yang kita sebut sebagai berpikir rasional, yaitu cara berpikir yang bisa diuji dan bisa diklarifikasi, sebaliknya jika tidak bisa diuji atau diklarifikasi maka kita sebut dengan cara berpikir irasional.

Cara berpikir rasional inilah yang menjadi pijakan berpikir ilimiah. Mahasiswa yang berjibaku dengan kehidupan akademis kampus adalah manusia yang dididik untuk berpikir ilimiah. Bila seorang mahasiswa atau alumi Perguruan tinggi tidak berpikir rasional maka bisa kita sebut proses pendidikannya telah gagal.

Karena hakikat manusia sebagai manusia seutuhnya adalah ketika diri manusia mempunyai kesadaraan akan eksistensi entitas dirinya. Bapak Filsafat modern Des Crates berkata “ Cogito ergo Sum/ karena berpikir maka aku ada”. Maka manefestasi dari berpikir adalah lahirnya kesadaran.

Kesadaran akan membawa kita pada sikap dan perilaku yang bisa kita pertanggung jawabkan, karena dalam setiap aktifitas kita melakukannya dengan penuh kesadaran/ consciousness. Seseorang yang tidak mampu mempertanggung jawabkan sikap dan perilakunya maka dia bisa kita sebut tidak sadar/ unconsciousness dalam paradigma psikologi.

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

4 Responses to REALITA (sebuah hasil perjalanan potensia menuju aktualita)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: