RESISTENSI MASYARAKAT DESA (Inspirasi mengahadapi tantangan globalisasi)

Masyarakat desa merupakan bentuk masyarakat tradisi yang berbasis paguyuban. Situasi dan kondisi dalam sebuah pedesaan erat kaitannya dengan budaya yang merupakan identitas masyarakatnya. Dalam konteks kebangsaaan budaya sangat identik dengan identitas bangsa yang merupakan pembentuk karakter bangsa.

Fenomena lunturnya budaya sudah jelas terlihat dilingkungan kita. Lunturnya jiwa gotong royong, tenggang rasa/ teposliro, sudah sangat jelas mendera masyakat kita. Salah satu penyebabnya adalah masuknya budaya modernitas dalam konteks globalisasi yang cenderung berorientasi pada kebendaan. Hal ini menimbulkan alienasi manusia dengan dirinya sendiri, yaitu manusia terasing dari dirinya sendiri. Segala aktifitas dan interaksinya dalam kehidupan berdasarkan standar-standar kebendaan/ matrelistik.

Potensi desa sangat besar dalam hal ini, mereka cukup resistensi dengan nilai-nilai yang muncul dari globalisasi. Pola interaksi masyarakat desa bukanlah disandarkan pada kebendaan sebagai tolak ukur. Salah satu yang membuat ini terjadi adalah proses tranfer nilai dan pendidikan akhlak yang berorientasikan pada kearifan lokal. Sistem pendidikan sekarang pada umumnya cenderung berorientasi pada reproduksi alat produksi (baca: sumberdaya manusia) untuk sistem kapitalistik.

Kearifan lokal yang menjadi warisan budaya agaknya sudah mulai ditinggalkan dan berganti pada nilai-nilai kebendaan. Strategi dan metode pendidikan sebagai cara mentransfer nilai-nilai akhlak dalam warisan tradisi sangatlah banyak. Salah satu metode adalah dengan wayang yang merupakan metode membangun opini dan penanaman nilai pada masyarakat. Pertunjukkan wayang jika dilihat dari seni sangat komprehensif karena terdiri dari seni tarik suara, seni tari, seni peran dalam karakter wayang, serta seni musik. Bentuk kearifan lokal lainnya adalah sedekah bumi yang erat kaitannya dengan orientasi penjagaan ekologis. Sedekah bumi merupakan ritual kepercayaan animisme, yakni kepercayaan yang lebih purba dari Budha dan Hindu. Kontekstualisasi pada saat sekarang adalah bagaimana sedekah bumi ini bergeser pada kampanye “go green” yang sekarang sedang marak dikampanyekan.

Desa yang identik dengan pertanian juga punya produk kearifan yang khas dengan petani. Hal ini bisa kita sebut sebagai alam pikiran mistik petani. Mereka mempunyai standar nilai kehidupan yang merupakan hasil kontemplasinya sebagai seorang petani. Seorang petani selalu memegang prinsip kesederhanaan dalam hidup, rendah hati, tenggang rasa, dan bijaksana dalam memandang hidup.

Apa yang ada didesa adalah sebuah inspirasi resistensi dalam memandang globalilasi. Sebuah komunitas yang resisten dengan globalisasi melalui pelestarian kearifan lokal yang merupakan produk budaya mereka. Potensi desa sebagai inspirasi kreatif dalam membangun paradigma hidup sangat layak untuk kita lihat sebagai sebuah tawaran yang strategis untuk menjawab tantangan globalisasi yang sedang kita hadapai saat ini.

*Tulisan ini pernah diterbitkan di http://www.gema-nurani.com 30 Januari 2012

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

2 Responses to RESISTENSI MASYARAKAT DESA (Inspirasi mengahadapi tantangan globalisasi)

  1. bibitjabon mengatakan:

    tulisan nya bagus.. ^^ saya sedang mengadakan event 3000 pohon untuk bumi, ikut yu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: