MANUSIA DALAM PERSPEKTIF I

Manusia sebagai objek kajian sudah dimualai di Yunani 600 SM. Para sophis dan filosof dengan berbagai sudut dan cara pandang berbebeda sudah banyak ditulis dalam berbagai literatur. Protagoras garda depan pemikiran kaum Sofis memandang manusia sebagai ukuran bagi segalanya, ukuran kebenaran adalah manusia itu sendiri. Socrates memandang manusia sebagai makhluk yang berakal budi sebagai kesempurnaannya. Aristoteles menyebut manusia sebagai hewan berakal, hal ini menjadi cikal bakal berbagai aliran muncul setelahnya. Zeno sebagai pendiri sekolah Stoa mengatakan bahwa etika adalah hal tetinggi yang akan membawa hidup manusia pada kesempurnaan.

Banyaknya pendapat-pendapat serupa dan berbeda juga bermunculan dari ilmu-ilmu yang berkembang setelah abad pencerahan banyak ilmu yang terjun membahasa manusia sebagai pusat kajian keilmuan (Antroposentris), serta lahirnya agama-agama yang juga mempunyai konsep kemanusiaan (Theosentris) selain konsep ke-Tuhanan. Pada tulisan ini kita akan membahas bagaimana manusia dalam pandangan aliran-aliran filsafat dan ilmu-ilmu yang terjun mengkaji manusia.

Antara menyeluruh dan detail

Majunya ilmu pengetahuan yang membahas manusia ternyata menimbulkan manusia semakin problematis. Kita tidak lagi memiliki gambaran yang jelas dan konsisten tentang manusia. Semakin banyak ilmu-ilmu khusus yang terjun mempelajari, tidak semakin menjernihkan konsepsi kita tentang manusia. Justru sebaliknya malah semakin membingungkan dan mengaburkan (Max Scheller).
Masing-masing ilmu khusus hanya membedah dan mendeskripsi aspek tertentu saja dalam diri manusia dan merangkainya kembali dengan dasar pengetahuan parsialnya. Sehingga tidak ditemukannya sebuah konsepsi yang komprehensif yang menjelaskan dengan jelas dan jernih secara keseluruhan.

Dibalik keterbatasan pembahasan ilmu khusus tentang manusia ada segi positif dari hal tersebut. Bahwa munculnya ilmu-ilmu khusus tentang manusia menimbulkan pembahasan yang mendetail dan mampu membantu dalam ranah praksis aktifitas kemnusiaan pada konteks pengembangan praksis ilmu-ilmu tersebut.

Filsafat manusia dan ilmu-ilmu tentang manusia

Ilmu-ilmu kemanusiaan seperti Psikologi, Sosiologi, Antropolgi, memiliki objek kajian aspek tertentu dari manusia. Psikologi menitik beratkan pada kajian perilaku manusia yang menurupakan manifestasi dari jiwa. Sosiologi menitik beratkan kajian pada proses serta dinamika sosial manusia, sedangkan antropologi menitik beratkan kajian keilmuannya pada budaya dan perkembangan masyarakat.

Berbeda dengan filsafat, pembahasan manusia dibahas khusus dalam filsafat manusia. Jika ilmu-ilmu kemanusiaan membahas manusia dengan jalan positivistik, maka filsafat manusia membahas manusia dengan jalan reflektif, extensive, dan intensive.
Ilmu kemanusiaan hanya melihat objek pembahasan yang oberverable, dengan jalan eksperimen dan kuantifikasi. Hal ini karena objek ilmu kemanusiaan sangat terbatas pada pada objek yang terindrai dan sebisa mungkin bebas dari nilai.

Filsafat manusia menggunakan pendekatan reflektif yaitu dengan mengenal dan melihat kedalam dirinya sebagai manusia itu sendiri. Pendekatan ini tidak bebas nilai karena subjektifitas setiap individu, subjektifitas setiap individu tidak dapat dihidari karena setiap individu menggunakan perspektif berdasarkan nilai-nilai yang dianutnya. Ini merupakan sebuah kemutlakan dalam refleksi setiap pribadi manusia.

Filasafat manusia lebih luas pembahasannya daripada ilmu kemanusiaan. Sifat extentive (keluasan) dari kajian filsafat manusia menembus batas-batas tidak hanya objek yang terindrai, karena filsafat manusia mencakup semua aspek baik fisik maaupun spritual, natural dan supra natural. Kajian filasafat manusia yang intensive (mendalam), tidak hanya pada fenomena tampakan proses sebab akibat, dinamika manusia, tapi juga pada konsepsi hakikat dari apa manusia itu sendiri, bagaimana, dan untuk apa manusia hidup.
Pandangan aliran filsafat dalam memandang manusia

Manusia dalam pandangan aliran-aliran filsafat yang ada sangat bervariatif. Setiap aliran mendasarkan pandangan esensi atau hakikat manusia pada pondasi epistemologinya. Adapun beberapa pandangan aliran-aliran filsafat dalam memandang manusia akan dijelaskan dengan singkat sebagai berikut.

1.    Filsafat Matrealisme

  • Esensi manusia adalah materi/ fisik
  • Objketifikasi inderawi, apa-apa yang tidak terinderai maka tidaklah eksis
  • Perilaku manusia bersifat mekanistis, dimana perilaku merupakan respon atas stimulus
  • Determinis

2.    Filasafat idealisme

  • Esensi manusia adalah spiritual
  • Bentuk manifestasi dari esensi spiritual adalah res cogitans/ berpikir
  • Metafor kesadaran untuk menjelaskan hakikat keberadaan
  • Hukum alam, fisik menifestasi dari roh absolute
  • Sebagian besar menganggap manusia determinis, kecuali idealis personlisme karena memandang roh bersifat pribadi dan bebas  mengekspresikan diri masing-masing

3.    Dualisme

  • Berdasarkan postulat Descrates (1596-1650) “Cogito ergo sum”
  • Manusia memiliki dua eksistensi yaitu res extensa dan res cogitans
  • Menusia memiliki dua subtansi, yaitu materi dan roh.

4.    Vitalisme

  • Realitas/ kenyataan sejati pada dasarnya adalah energi, daya, kekuatan dan nafsu
  • Perilaku manusia berdasarkan dorongan instingtif
  • Sejarah manusia merupakan bentuk bagaimana mempertahankan diri (survival) sebagai penentu kehidupan. Menurut Arthur Schopenhauer adalah kehendak buta, sedangkan menurut Nietzsche adalah kehendak berkuasa, menurut Freud adalah Id
  • Determinis

5.    Filasafat Eksistensialis

  • Kehendak buta, tabula rasa
  • Kebebasan merupakan modal utama hidup
  • Membahas esensi manusia secara spesifik tidak secara abstrak
  • Eksistensi otentik; kematian, cemas, sedih, senang. (Martin Heidiger)

6.    Strukturalisme

  • Menempatkan struktur (sistem) bahasa dan budaya sebagai kekuatan yang mempengaruhi perilaku manusia, bahkan kesadaran manusia
  • Keberadaan manusia seperti huruf dalam kata/ istilah
  • Jika ada munusia yang unik secara 100% maka tidak ada orang yang mampu memahmi perkataan ataupun perbuatannya selain dirinya sendiri

7.    Posmodernisme

  • Dekontruksi nilai dan pemahaman
  • Menolak dominasi sistem tunggal atas sistem jamak (plural), menjunjung tinggi pluralitas
  • Menolak “aku/ ego” yang unik dan mandiri, karena selalu hidup didalam dan ditentukan oleh sejarah serta situasi sosial, budaya yang mengungkungnya.

Pendangan-pandangan aliran diatas merupakan usaha para filosof dan pemikiran untuk memecahkan misteri tentang hakikat manusia. Usah tersebut karena pada hakikatnya manusia ingin dan seharusnya mengenali dirinya sendiri sebagai makhluk berakal yang selalu ingin tahu segalanya.

Kesimpulan

Pembahasan tentang manusia baik dalam ilmu-ilmu positivis maupun filsafat memang tidak akan ada habisnya. Manusia ditempatkan sebagai subjek yang mengetahui sekaligus objek yang diketahui. Perlu adanya kejujuran, kejernihan, dan bijaksana dalam berpikir untuk melihat manusia sebagai objek kajian. Karena jika ada yang merasa paling tahu dan menguasai atau mengenggam hakikat manusia secara mutlak maka sesungguhnya dia semakin jauh dari hakikat manusia. Sungguh memerlukan sikap bijak dan pikiran yang jernih dalam mencari hakikat manusia karena kita sedang belajar untuk mengetahui siapa diri kita, untuk apa kita hidup, bagaimana hiduo sebagai manusia seutuhnya.

Referensi:

  1. Hatta Mohammad, Alam Pikir Yunani, UIP, Jakarta: 1986.
  2. Abidin Zainal, Filsafat Manusia, Rosda, Yogyakarta.
  3. Audifax, Filsafat Psikologi, Pinus, Jakarta.

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

2 Responses to MANUSIA DALAM PERSPEKTIF I

  1. Sfarin Haris mengatakan:

    Terimakasih Atas Artikelnya.

    • husni mengatakan:

      sama2..semoga bermanfaat..
      kalau perlu coba kita diskusikan tentang filsafat manusia siapa tahu ada yang bisa kita angkat dalam ruang diskusi dalam blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: