ARABISASI ATAU ISLAMISASI (Tinjaun kritis tentang otoritas kebudayaan Islam)

Muqadimah

Manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tidak akan bisa terlepas dari konteks lingkungannya tempat dia tinggal. Interaksinya dengan manusia lain menghasilkan apa yang disebut dengan bahasa dan komunkasi. Secara personal manusia mempunyai keinginan untuk bertindak berdasarkan pilihan bebas dan kemerdekaan, disisi lain manusia akan bertemu dengan nilai-nilai atau norma-norma yang ada dalam masyarakat.

Aktivitas manusia yang berjalan sepanjang sejarah manusia akan membentuk sebuah pola dan model. Pola atau model ini cenderung mempunyai ciri khas pada setiap masing-masing pola dan model, inilah yang disebut dengan budaya. Menurut Ibnu Khaldun budaya adalah kondisi-kondisi kehidupan biasa yang melebihi dari yang diperlukan. Kelebihan ini berbeda sesuai dengan tingkat tingkat kemewahan yang ada. perbedaan antar bangsa-bangsa dan perbedaan kelebihan dan kekurangannya tidaklah terbatas. Selanjutnya Ibnu Khaldun mengatakan, kebudayaan tidak akan berkembang kecuali di perkotaan, dan kebudayaan adalah tujuan aktifitas manusia.[1]

Definisi lain tentang budaya dikemukakan oleh Taylor, bahwa kebudayaan adalah keseluruhann kompleks yang meliputi pengetahuan, dogma, seni, nilai-nilai moral, hukum, tradisi-tradisi sosial, dan semua kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia dalam kedudukannya sebagai anggota masyarakat.

Kebudayaan dalam lisan Arab disebut  Tsaqafah yang menggambarkan spirit, nilai dan lebih diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai Culture. Secara filsafati kebudayaan dapat didefinisikan sebagai khasanah historis yang terefleksi dalam kredo dan nilai, yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalam dan jauh dari kontradiksi-kontradiksi ruang dan waktu[2].

Islam dan Arab, Dilema Legitimasi Sebuah Otoritas Budaya.

Islam sebagai agama yang diturunkan di Arab menimbulkan perdebatan yang sengit mengenai apakah sebenarnya dan bagaimanakan kebudayaan Islam itu? Dalam perjalanan sejarah Islam sempat identik dengan Arab, dan Arab identik dengan Islam. Masalah ini perlu untuk kita dudukkan kembali, karena jika memang Arab dan Islam adalah hal yang selalu identik maka Arabisme akan menjadi otoritas atas kubudayaan Islam.

Banyak peneliti Barat menyebut kebudayaan Islam dengan kebudayaan Arab, dengan landasan peran bangsa Arab dan bahasa Arab didalamnya. Kontribusi bangsa Arab memang tidak dapat dipungkiri dalam penyebaran Islam. Tidak ada yang menentang kontribusi bahasa Arab dalam kedudukannya sebagai bahasa kebudayaan dan ilmu pengetahuan pada zaman pertengahan, kepada bangsa-bangsa di dunia yang menjadi pendorong sebagian peneliti menyebut kebudayaan Islam sebagai kebudayaan Arab.

Kawasan kebudayaan Arab saat ini bisa kita sebutkan meliputi wilayah Timut Tengah, Teluk Persia, dan Afrika Utara, dan Bulan Sabit Subur. Timur Tengah menurut Peretz adalah wilayah yang meliputi Turki, Iran, Israel, Libanon, Irak, Yordania, Syiria, Mesir, dan kerajaan-kerajaan di Teluk Persia.

Bangsa Arab termasuk dalam rasa tau rumpun bangsa Caucasoid, dalam sub ras Mediterranean yang anggotanya meliputi wilayah sekitar laut tengah, Afrika Utara, Armenia, Arabia dan Irania. Inilah asal usul bangsa Arab secara Antropologis. Kaum Masehi, Yahudi, dan penganut Zoroaster dan Shabean juga sangat berpengaruh pada bangsa Arab sebelum Islam[3].

Peran politik bangsa Arab dalam memimpin Imperium Islam segera mendapatkan saingan dari bangsa-bangsa lain dengan munculnya unsur-unsur Turki dan Moghul baru yang kemudian memegang tampuk kepemimpinan dunia Islam, setelah Imperium Islam terpecah-pecah menjadi Negara-negara kecil sejak lahirnya dinasti Abbasiyyah. Maka kebudayaan Islam tidak bisa serta merta beratribut Arab dengan makna bahwa pemimpin Imperium berbangsa Arab.

Jika kebudayaan Islam identik dengan kebudayaan Arab maka kita perlu melihat karakteristik budaya unik dari bangsa Turki, Persia, dan Arab, masing-masing mempunyai ciri dan karakteristik yang berbeda. Jika dalam penyebarannya bangsa-bangsa lain menjadi terarabkan maka bukanlah bermakna rasial murni akan tetapi adanya proses metamorphosis bahwa bangsa Arab menjadi salah satu unsur yang dominan dalam kebudayaan ini.

Pada zaman abad pertengahan kebudayaan bercorak spiritual atau keagamaan dan ide nasionalisme yang berdasarkan ras, belum muncul adanya filsafat kebudayaan dimanapun. Sedangkan kebudayaan Islam dan idealisme sosialnya berdasarkan pada landasan keagamaan bukan berlandaskan rasial. Berlanjut di Eropa pada saat kebangkitan rasionalisme maka beralihnya budaya yang berdasarkan Agama (gereja) terlepas sama sekali atau dikenal dengan Humanisme sebagai bentuk Agama baru, maka dapat dikatakan pada masa ini Agama adalah pengetahuan dan pengetahuan adalah Agama.

Dominannya peran bangsa Arab tidak mampu menimbulkan atribut Islam yang identik dengan Arab. Atribut kebudayaan Islam lebih tepat karena Islam adalah Agama yang dominan dalam kebudayaan ini dan Syari’at Islam adalah pengikat satu-satunya bagi bangsa-bangsa di dunia Islam, baik di Asia, Eropa, maupun Eropa, sepanjang Abad pertengahan.

Walaupun kesatuan admistratif Imperium Islam tidak bertahan lama. Tapi disintegrasi politik dalam Imperium Islam tidaklah begitu berarti bagi mayorotas Muslim yang memandang semua negeri Islam adalah tanah airnya sendiri, dimanapun berada. Nasionalisme yang berkembang pada masa itu adalah Nasionalisme rohaniah yang mempertautkan seluruh Muslim dengan ikatan persaudaraan dan persamaan[4].

Islam adalah Agama yang menauingi kebudayaan ini dan membekalinya dengan suatu yang menyatukan visi historisnya terhadap diri kulturalnya, dan member bentuk intuitifnya secara khusus, merupakan penyebutan yang teliti dan telah mencakup pengertian adanya peran pada pemeluk agama-agama lain dalam membangun kebudayaan ini.

Islam menurut para peneliti mempu mewarnai kelompok-kelompok dan ras atau bangsa dengan corak kebudayaan agama pada umumnya, tapi tidak sampai membuat kelompok, ras, dan bangsa ini kehilangan warna khusus perasaan mereka berkenaan dengan mistisisme dan magis yang mereka geluti dalam kehidupan pribadi mereka.

Keseiringan dan keharmonisan dalam kebudayaan Islam antara kegiatan rohaniah dan kegiatan praksis dalam kehidupan menjadi pandangan optimis dan kreatif, dan tangguh dalam memandang pemakmuran Bumi sebagai wujud kewajiban agama yang merupakan tugas suci. inilah tempramen filosofis yang mewarnai kebudayaan Islam dengan corak yang sama, sehingga membuat kita pada akhirnya dapat menyatakan bahwa ini merupakan satu kebudayaan, meski adanya keanekaragaman wilayah dan daerah jelajah dan teritorial yng dilingkupinya[5].

Kebudayaan Islam Sebuah Manifestasi Kekhalifahan Manusia Di Bumi

Kebudayaan sebagai produk dari rasa, cipta dan peradaban sebagai bentuk produk cipta. Budaya (Culture) dan peradaban (Civilization) merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan dalam perjalanan sejarahnya. Peradaban akan mengalami fase lahir dan runtuh dalam sejarah, sedangkan budaya bersifat lebih langgeng dan terinternalisasi dalam diri anggota masyarakat.

Budaya merupakan identitas sebuah kelompok atau komunitas dan akan menjadi ciri khas komunitas dan kelompok tersebut. Pada realitas aktual sekarang, peradaban Islam tinggallah puing-puing bangunan dan lembaran-lembaran halaman buku. Akan tetapi kebudayaan Islam seiring dengan nafas denyut pergolakan spiritual umat masih mengalir dalam tradisi umat Islam seluruh dunia.

Ibadah Haji sebagai bentuk ibadah Makhdoh sekaligus simbol egalitarian/ kesetaraan manusia dalam pandangan Islam, puasa sebagai ritual pembentuk empati umat Muslim terhadap kaum lemah dan bentuk latihan pegendalian diri akan nafsu. Hal yang paling revolusioner dan mengalir deras dalam darah kaum muslim adalah pembebasan dari penindasan dan antisipasinya dalam bentuk perintah Amar Ma’ruf nahi Mungkar. Prinsip saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan merupakan kewajiban dan menjadi budaya karena mengandung nilai-nilai fundamental dalam bersikap dan berperilaku. Perilaku yang termaifestasi menjadi pola serta menyusun pondasi-pondasi budaya dan menjadi ciri serta karakteristik umat. Sebagaimana Al Qur’an menyebutkan umat Islam sebagai umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya alhlulkitab beriman tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik” QS: Al-Imran;110.


[1] Khaldun, Ibnu (2006), Muqadimah, Pustaka Al Kautsar: Jakarta.

[2] Al Sharqawi, Effat (1981),  Filsafat Kebudayaan Islam, Pustaka: Bandung

[3] Mafrodi, Ali (1997), Islam di Kawasan Kebudayaan Arab,Logos: Ciputat.

[4] ibid, hal 12.

[5] ibid, hal 17.

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: