ORANG YANG TERINDIVIDUASI KONSEP KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT CARL GUSTAV JUNG

A.SEJARAH DITEMUKANNYA PENDEKATAN JUNG

Pada masa hidupnya Jung adalah seorang psikiater yang dihormati pada masanya, dan praktik pribadinya yang besar serta seorang isteri dan keluarga. Selain itu Jung adalah seorang dosen di universitas Zurich swiss. Dari sekilas hidupnya Jung mempunyai kehidupan pribadi yang sangat menguntungkan.

Pada usia 38 tahun Jung beranggapan bahwa dia telah menjadi gila dan mulai merasa kehilangan kontak dengan dunia yang nyata. Beberapa bulan sebelum peristiwa ini Jung memutuskan hubungan emosionalnya dengan Sigmund Freud karena ada perbedaan pendapat dan persepsi, walaupun sebenarnya kejadian ini sebenarnya sulit untuk keduanya (Freud dan Jung). Tapi ini bukanlah satu-satunya penyebab dari masalah-masalah yang dihadapi oleh Jung salah satu sebab yang lain adalah Jung merasa kehidupannya kekurangan arti dan makna atau semangat. Dia melepaskan semua karirnya di universitas Zurich dia meletakkan jabatannya sebagai dosen karena dia merasa tidak layak untuk mengajar dengan situasi dan kondisi intelektual dan emosionalnya yang kacau dan mencemaskan.

Jung merasa kehilangan kontak dengan dunia nyata, untunglah keadaan ini teratasi dengan kehidupan keluarganya dan anank-anaknya. Sampai akhirnya dia merasa bahwa dirinya bukanlah suatu lembaran kosong yang selalu berputar keliling dalam lingkaran-lingkaran roh. Akan tertapi dia mempunyai peran dan arti penting dalam keluarganya dan Jung selalu berusaha untuk membuktikan itu.

Dalam keadaan psikologis yang kacua ini Jung mencoba meneliti kehidupan pribadinya terutam kehidupan masa kanak-kanaknya dengan harapan menemukan peristiwa penyebab kekalutan psikologisnya. Dia mengakhir usahanya memahami kondisi kekalutannya secara intelektual. Dia memasrahkan dirinya pada dorongan-dorongan ketidaksadarannya suatu proses yang kelak akan dirumuskannya sebagai konfrontasi dengan ketidaksadaran. Dengan cara ini akhirnya Jung menemukan alternatif-alternatif yang berasal dari manifestasi-manifestasi dari ketidaksadaranya dalam mimpi-mimpi atau penglihatan-penglihatannya.

Banyak para ahli teoritik yang merusmuskan tentang kepribadian setelah pemahaman mereka terbuka oleh pengalamam-pengalaman pribadi mereka. Hubungan antara pengalaman dan pendekatan professional ini mungkin lebih kuat dengan Jung. Definisi dan petunjuk tentang kesehatan psikologis merupakan banyangan dari krisis emosional dan kekacauan kondisi psikologis Jung dann bagaimana cara Jung memecahkannya.

Pendekatan yang dikemukakan oleh Jung dari hasil pengalaman pribadinya mendapat perhatian yang antusias yang mana pendekatann Jung ini merupakan perpaduan dari psikologis dengan ilmu Tasawuf, dan ilmu klenik. Pendapat Jung mendapat banyak perhatian karena dianggap menarik menurut kalangan para anak muda. Pedengar dan pemerhati pndekatan Jung bertambah karena mulai banyak orang yang tertarik kepada agama-agama Timur. Walaupun sebenarnya buku-buku yang ditulis oleh Jung susah untuk dipahami, akan tetapi karyanya tampak lebih popular dewasa ini dibandingkan pada waktu kematiannya pada tahun 1961. Pandangan Jung mempunyai sedikit persamaan dengan para ahli yang lain dan karyanya terpencil, sebaimana Jung yang sendiri dan tetap berada dalam kehidupannya.

B.PENDEKATAN JUNG TERHADAP KEPRIBADIAN

Setelah kita disadarkan oleh Sigmud Freud tentang pentingnya kekuatan-kekuatan ketidaksaran, dalam pendekatan yang dikemukakan Jung memberikan dimensi yang lebih dalam tentang kehidupan batin kita. Selain pengalaman-pengalaman yang kita kumpulkan masing-masing dalam hidup, Jung juga mengemukan tentang pengalaman-pengalaman dari semua spesies manusia atau nenek moyang kita yang tersusun dalam pengalaman-pengalaman ketidaksadaran kita yang disebut oleh Jung sebagai ketidaksadaran kolektif yang akan tersusun di dalam semua penagalaman manusia sepanjang masa.

Menurt Jung tidak sehatnya kondisi psikologis adalah disebabkan karena kehilangan hubungan spiritual kita dengan masa lampau. Jung menyebut ini dengan penyakit disosiasi dan disorganisasi dan hanya ada satu cara penyembuhannya adalah dengan memperbaharui hubungan dengan kekuatan-kekuatan tak sadar dalam kepribadian kita.

Jung menentang pendapat tentang dominasi atau kontrol kepribadian oleh ketidaksadaran. Menurut Jung kesehatan psikologis adalah pengarahan dan bimbingan sadar terhadap kekuatan-kekuatan tak sadar. Alam kesadaran dan alam ketidaksadaran harus terintegrasi kedua sisinya harus dibiarkan berkembang secara bebas. Proses penyebab terjadinya integrasi kepribadian yang disebut oleh Jung dengan terindividuasi atau realisasi-diri. Proses menjadi diri ini merupakan kodrati. Tentu saja, proses ini merupakan kecenderungan yang sangat kuat sehingga Jung menyebutnya sebagai insting. Namun banyak halangan untuk tercapainnya individuasi dan Jung tidak optimis bahwa semua orang bias mencapai kondisi ini. Orang yang dapat mencapai sesuatu dalam dirinya, yakni pemahaman dan kematangan dan kesehatan psikologis, keutuhan manusia penuh. Tujuan dari ekistensi manusia ini harus diperjuangkan akan tetapi jarang dicapai sebelum usia setengah tua sama seperti saat Jung mengalami krisis kepribadian dan menemukan pemecahannya.

C.STRUKTUR KEPRIBADIAN DAN PERKEMBANGANNYA MENUJU KEPRIBADIAN SEHAT

Dalam pandangan Jung kepribadian terdiri dari tiga sistem yang terpisah tetapi berinteraksi; “aku”(ego), ketidaksadaran pribadi, dan ketidaksadaran kolektif. Walau ketiga sistem ini berbeda namun mereka dapat mempengaruhi satu sama lain.

Aku (ego) adalah alam sadar yang meliputi semua persepsi, ingatan, pikiran dan perasaan yang selalu ada dalam kesadaran kita setiap saat. Karena dalam sepanjang hidup kita akan mengalami begitu banyak stimulus-stmulus dan kita tidak bisa memperhatikannya secara efektif. Oleh karena itu kita perlu selektif dalam persepsi terhadap apa yang berlangsung disekitar kita. Kita harus selektif menyaring stimulus-stimulus yang tidak berarti dan tidak penting seperti stimulus yang menyakitkan atau mengancam.

Dalam bereaksi terhadap dunia maka kita ditentukan oleh dua sikap yaitu ekstraversi dan introversi. Ekstrovers adalah sikap seseorang yang berorientasi terhadap dunia kenyataan objektif luar, orang dengan sikap ini terbuka dan suka bergaul dengan orang-orang lain. Sedangkan orang dengan sikap introvers berorientasi kepada kehidupan batin yang bersifat subjektif dan mungkin menjadi introspeksif, suka menyendiri dan malu. Jung berpendapat bahwa semua orang dapat ditempatkan dalam salah satu tipe tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari tingkah laku seseorang dapat didominasi oleh salah satunya. Tapi ini bukan berarti seseorang benar-benar menjadi ekstrovers atau introvers, sikap yang tidak dominan tetap ada walaupun lemah pengaruhnya.

Jung mengetahui bahwa tidak semua orang yang ekstrovers atau introvers adalah sama, mereka berbeda dalam dalam sikap mereka terhadap dunia mungkin dalam hal rasional ataupun tidak rasional. Fungsi rasional adalah pikiran dan perasaan meskipun sebenarnya kedua fungsi ini adalah berlawanan akan tetapi keduanya terlibat dalam membuat keputusan-keputusan dan penilaian-penilaian tentang pengalaman-pengalaman dan mengatur mengategorikan pengalaman-pengalam. Sedangkan fungsi yang tidak rasional adalah indera dan instuisi keduanya juga berlawanan, diman pendirian terlibat dalam mengalami kenyataan melalui indera, sedangkan instuisi berdasarkan firasat-firasat yang tidak berhubungan dengan panca indera. Berkenaan dalam orientasi dasar kita terhadap dunia maka hanya ada satu fungsi saja yang dominan dalam kesadaran sedangkan tiga fungsi yang lain tenggelam dalam ketidaksadaran.

Akhirnya dalam klasifikasi yang agak komplek tentang kepribadian, kedua sikap dan keempat fungsi berinteraksi membentuk 8 tipe kepribadian,yaitu:
1.Ekstravers berfungsi dalam cara pikiran
2.Ekstravers berfungsi dalam cara perasaan
3.Ekstravers berfungsi dalam cara penginderaan
4.Eksratvers berfungsi dalam cara instuisi
5.Introvers berfungsi dalam cara pikiran
6.Introvers berfungsi dalam cara perasaan
7.Introvers berfungsi dalam cara penginderaan
8.Introvers berfungsi dalam cara instuis

Meskipun kesadaran penting tapi menurut Jung jauh lebih penting yaitu ketidaksadaran. ketidaksadaran sendiri memilki dua tingkat yaitu ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi adalah ketidaksadaran yang bersifat dangkal yang berupa wadah tempat bahan-bahan yang sudah tidak disadari lagi tapi dapat dengan mudah untuk dimunculkan kembali dalam kesadaran. Bahan-bahan ini adalah bahan-bahan yang dianggap tidak penting atau dianggap mengancam karena dalam kesadaran ada suatu batas untuk berapa banyak pengalaman yang dapat kita sadari pada setiap saat tertentu. Kita hanya dapat memperhatikan atau memikirkan beberapa ide atau pengalama saja pada setiap. Ini karena kita harus memberi tempat untuk hal-hal yang sedang menjadi pusat perhatian kita saat ini.
Suatu segi dalam ketidaksadaran pribadi yang disebut Jung sebagai kompleks-kompleks, yaitu kelompok emosi, ingatan, dan pikiran suatu pokok secara umum. Sedikit banyak komplek-komplek merupakan kepribadian-kepribadian yang lebih kecil dalam suatu kepribadian dan cirinya adalah mengutamakan sesuatu. Akan tetapi pada realitanya orang dengan suatu kompleks tidak sepenuhnya menyadari berapa banyak dia dikontrol oleh komplek-komplek ini.

Kompleks-kompleks ini sangat menentukan segala sesuatu tentang kita.
Pada awalnya Jung berpandangan bahwa kompleks-kompleks ini bersumber dari pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak yang traumatis, tetapi kemudian Jung menyadari bahwa kompleks-kompleks ini dipengaruhi oleh sesuatu yang lebih dalam yaitu pengalaman-pengalam dari sejarah evolusi perkembangan spesies, yaitu pengalaman-pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi melalui mekanisme heraditer. Gudang dari pengalaman-pengalaman yang universal ini adalah tingkat kepribadian yang paling dalam dan sama sekali tidak dapat dicapai, yakni ketidaksadaran kolektif. Apakah pengalaman-pengalaman ini diaktualisasikan atau tidak tergantung pada pengalaman-pengalaman khusus yang kita miliki.

Pengalaman-pengalaman universal ini dimanifestasikan dalam diri kita sebagai gamabaran-gambaran yang dinamakan oleh Jung archetypus-archetypus. Definisi archetypus adalah pola asli menurut apa mana suatu benda dibuat. Archetypus adalah model atau prototipe untuk membuat gambaran-gambaran kemudian. Misalnya adalah; dewa, kematian, kelahiran, ibu, bumi. Ada banyak archetypus sebanyak berapa pengalaman khas yang terulang dalam sejarah manusia.

Ada hal yang harus digaris bawahi tentang archetypus-archetypus ini. Mereka tidak sepenuhnya mengembangkan ingatan-ingatan atau gamabaran-gambaran dalam jiwa kita yang dapat kita mengerti dengan jelas. Mereka tidak kita sadari akan tetapi mempengaruhi kita seperti predisposisi-predisposisi yang lain.

Dari semua kemungkinan archetypus menurut Jung percaya beberapa archrtypus mempunyai arti khusus dalam hidup kita. Mereka berkembang dengan penuh dan kuat. Archetypus-archetypus ini adalah persona, anima, animus dan bayang-bayang dalam diri kita.

Persona adalah topeng atau peran yang kita pakai untuk menampilkan diri sesuai dengan yang diinginkan oleh norma-norma sosial dan menutupi segala segi negatif kita. Persona akan berbahaya jika yakin bahwa persona-persona itu benar-benar mencerminkan kodrat-kodrat kita bukan sekedar peranan-peranan yang kita mainkan, sehingga pada akahirnya kita lupa akan siapa sebenanya diri kita sendiri secara sebenarnya.

Tujuan dari kepribadian sehat adalah mengempiskan persona dan membiarkan yang lainnya dari kepribadian berkembang. Perbedaan antara orang yang sehat dengan tidak adalah orang yang tidak sehat menipu diri sendiri dan orang lain dengan persona yang dimainkannya, akan tetapi orang yang sehat adalah orang yang tahu apa yang diperankannya dan pada saat itu juga mereka mengetahui kodrat batin mereka sendiri.

Sepasang archetypus yang berhubungan adalah anima dan animus. Kita masing-masing mempunyai kualitas-kualitas biologis dan psikologis serta sifat-sifat dari jenis kelamin lain. Pada tingkat biologi setiap jenis kelamin memiliki hormon-hormon dari jenis kelamin lain. Pada tingkat psikologis setiap jenis kelamin dapat berperilaku seprti jenis kelamin lainnya. Wanita memiliki komponen perilaku jantan (animus) dan pria mempunyai komponen perilaku betina (anima). Archetypu ini (anima dan animus) berkembang dari pengalaman generasi wanita dan pria yang tidak terbilang jumlahnya yang hidup bersama, dimana dalam proses tersebut setipa jenis kelamin memperoleh dari jenis kelamin lainnya.

Pentingnya archetypus-archetypus untuk kesehatan psikologi adalah kedua-duanya harus diungkap dalam diri kita masing-masing, yakni pada sat kita mengungkapkan sifat-sifat dari kelamin lain pada saat yang sama kita juga mengungkapkan sifat-sifat dari kelamin kita sendiri.

Archetypus yang lain adalah bayang-bayang yang sangat kuat dan kemungkinan besar berbahaya. Bayang-bayang mempunyai akar yang sangat dalam karena ia mengandung insting-insting binatang primitif dari para leluhur kita pra manusia. Inilah archrtypus yang paling menyusahkan karena dia meliputi segi-segi yang paling baik dan juga memiliki segi-segi yang paling buruk dari kodrat manusia, kedua segi ini harus diungkapkan. Oleh karena itu agar dapat diterima oleh masyarakat dan menjadi manusia yang beradab maka insting-insting binatang primitif dalam bayang-bayang harus dijinakkan, akan tetapi tidak membunuh atau mereduksi semua kekuatan-kekuatan ini karena kita bisa kehilangan segi-segi positif darinya seperti; spontanitas, wawasan, emosi yang dalam, kreatifitas, yang merupakan sifat-sifat penting untuk kemanusiaan yang penuh. Jika ini terjadi maka akan terbentuk kepribadian yang tumpul dan terputusnya hubungan dengan kebijaksaan masa lalu yang dianggap oleh Jung sebagai satu sumber pengalaman yang sangat berharga. Harus ada keharmonisan dalam pengendaliannya, disatu sisi terjadi penekanan terhadap insting-insting negatif dan disatu sisi insting-insting positif harus dibiarkan berkembang.

Menurut Jung archrtypus yang terpenting adalah “diri” atau self yang merupakan tujuan akhir kehidupan. Diri adalah perjuangan kearah integrasi dan kebulatan dari semua segi kepribadian serta terjadinya asimilasi antara kesadaran dan ketidaksadaran.

Carl Jung menggambarkan perkembangan kepribadian dalam empat fase; masa kanak-kanak, masa remaja dan masa remaja dewasa, usia setengah tua, usia tua. Dia tidak percaya bahwa fase kanak-kanak sangat penting dalam pembentukan kepribadian seperti yang diutarakan oleh Freud, karena menurut Jung tingkah laku bayi dipengaruhi oelh insting-insting dan tidak ada masalah psikologis pada tahap awal ini. Karena masalah-masalah membutuhkan aku yang sadar yang pada fase ini belum terbentuk.

Aku mulai berkembang pada masa kanak-kanak, mula-mula secara elementer, tetapi anak tidak mempunyai pribadi yang unik atau identiras kepribadian. Anak tidak lebih daripada pantulan dari kepribadian orang tuanya. Jadi orang tua pada fase ini memiliki peran yang cukup penting dalam pembentukan kepribadian.

Fase kedua adalah fase remaja dan remaja dewasa, mulai pada pubertas ketika kepribadian mulai mengembangkan bentuk dan isi tertentu. Pada masa pubertas inilah Jung menyebutnya sebagai “kelahiran psikis” individu dan itulah saat yang mengandung banyak konflik, masalah dan adaptasi.

Pada masa adolesensi sampai masa remaja dewasa, tugas-tugas utama yang menantang kita adalah persiapan bekerja dan menerima tanggung jawab orang dewasa. Fokusnya ialah pada pendidikan,, memulai karier, nikah dan mulai membangun keluarga. Energi diarahkan keluar, jauh dari diri, dan sikap selam bertahun-tahun ini biasanya ekstravers. Kesadaran adalah yang dominan dalam fase-fase dan tujuan hidup adalah mencapai, menciptakan suatu tempat di dunia.

Tetapi kemudian usia setangah tua, mulai sekitar usia 40 tahun, menimbulkan perubahan-perubahan yang muram dan radikal pada kepribadian. Mugkin tampaknya pada usia setengah tua akan merupakan periode kepuasan yang luar biasa dengan penyesuaian diri yang agak baik dilakukan oleh kebanyakan kita terhadap tuntunan-tuntunan hidup. Dimana pada fase sebelumnya mengejar keduniawian sudah berhasil dan sekarang mulai santai dan menikmati kehidupan. Akan tetapi bagi Jung masa ini adalah masa terberat bagi dia.

Dimana semua tuntutan kehidupan tercapai, dan kematangan secara keseluruhan telah dicapai, energi-energi yang hebat telah ditamankan dalam kegiatan-kegiatan persiapan pada setengah masa fase pertama. Tapi pada saat usia 40 tahun persiapan selesai tatangan-tantangan kehidupan telah dialami. Walaupun orang masih mempunyai energi yang hebat kan tetapi sekarang pada masa ini tidak mempunyai arah tujuan. Oleh karena itu energi harus ditanamkan kembali kesegi kehidupan yang berbeda.

Pada masa setengah bagian pertama kehidupan berpusat pada dunia luar (ekstravers), berubah menjadi berorientasi pada kehidupan batin yang subjektif pada dulu diabaikan dan ditekan oleh kesadaran. Perhatian-perhatian beralih menjadi religius, filosofis, dan intuitif. Tekanan yang berat sebelah pada kesadaran sudah saatnya untuk diseimbangkan dengan ketidaksadaran agar tercapai dengan apa yang disebut oleh Jung sebagai realisasi diri atau “Terinduviduasi”.

Setelah kita mengetahui pandangan Jung tentang kepribadian, maka kita dapat menyimpulkan apa yang disebut manusia yang berkepribadian sehat yang dalam bahasa Jung disebut dengan manusia yang terindividuasi, ada beberapa syarat dan ciri tercapainya individuasi dalam kepribadian, beberapa syarat dan cirinya adalah sebagai berikut:
1.Individuasi adalah bahwa orang menyadari segi-segi dari yang terabaikan itu, individuasi bersifat instingtif suatu tujuan yang harus diperjuangkan akan tetapi jarang tercapai. Adanya penerimaan terhadap kekuatan-kekuatan tak sadar akan tetapi bukan sebuah kepasrahan pada dorongan-dorongan ketidaksadaran. Tapi penerimaan kekuatan tak sadar dengan proses-proses sadar. Kesadaran dan ketidak sadaran menjadi partner yang sederajat tidak ada yang lebih dominan.
2.Segi yang kedua adalah pengorbanan tujuan-tujuan material dari masa remaja dan sifat-sifat kepribadian yang memungkinkan seseorang mencapai tujuan itu. Tujuan-tujuan masa setengah bagian pertama tidak berarti pada masa setengah bagian kedua.
3.Perubahan-perubahan pada archetypu-archetypus; persona, bayang-bayang dan animus-anima. Walaupun kita memamakai persona pada saat pergaulan dengan masyarakat pada saat itu pula kita menyadari kodrat sejati kita sebenarnya. Menyadari semua kekuatan bayang-bayang yang destruktif dan yang konstrukif. Kita mengakui adanya sisi gelap kita pada bayang-bayang bukan menyerah pada mereka, dengan bantuan persona kita dapat menyembunyikan sisi gelap pada bayang-bayang kita. Akan tetapi kita tetap mengakui keberadaan sisi gelap dari bayang-bayang kita. Penerimaan terhadap biseksualitas psikologis kita selain mengugkapkan sifat-sifat dari jenis kelamin kita sendiri kita juga harus mengungkapkan sifat-sifat dari jenis kelamin yang lain yang ada dalam diri kita. Proses mengenal dalam diri sendiri kualitas-kualitas dan sifat-sifat dari jenis kelamin lain adalah proses yang paling sulit. Dengan penerimaan kodrat biseksual kita membuka sumber-sumber kretifitas kita yang tidak pernah kita harapkan atau mengakui bahwa kita memilikinya

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

3 Responses to ORANG YANG TERINDIVIDUASI KONSEP KEPRIBADIAN SEHAT MENURUT CARL GUSTAV JUNG

  1. erbesaputro mengatakan:

    wah terimakasih udah berbagi informasi, masih perlu nyari info tambahan soal mimpi menurut Jung itu kaya gimana sih sebenernya. semoga tulisannya semakin bermanfaat.

    • Husni mengatakan:

      dalam soal mimpi, jung yg “pernah” freudian hampir sama, ketidaksadaran kolektifnya menjadi kunci perbedaan dengan Freud dan konsep Ekstrovert dan introvertnya, jung lebih kompleks dalam menjelaskannya. coba cari konselieng dan terapinya Jung yg juga tetap freudian.

  2. miratrielshira mengatakan:

    analisis mimpi Jung berbeda dengan Freud. Kalau Jung, menganggap bahwa libido hanya salah satu dari sekian banyak energi yang bisa menjadi manifestasi positif maupun negatif. Ketaksadaran kolektif juga jadi kuncinya.

    Analisis Jung lebih ke analisis bentuk siklus, dimana gejala, perilaku neurotik (perilaku bermasalah) dan sejarah klien itu saling mempengaruhi, sedangkan Freud analisis masalahnya menyerupai garis linier, dimana sejarah klien mempengaruhi gejala dan gejala mempengaruhi perilaku, sehingga untuk mengubah perilaku perlu mengubah persepsi klien dulu, dengan mereduksi elemen2 tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: