PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PERSPEKTIF LINTAS BUDAYA TENTANG POLA ASUH

Sekilas tentang psikologi perkembangan

Psikologi perkembangan adalah bidang psikologi yang menaruh perhatian pada perubahan dalam perilaku seiring berjalannya waktu. Sedangkan tugas seorang psikolog perkembangan adalah untuk mendefinisikan dan menjelaskan jalannya perubahan developmental. Perubahan developmental ini terjadi karena adanya interaksi antara pertumbuhan biologis dengan lingkungan tempat tinggal seorang individu.

Psikologi perkembangan mencakup berbagai macam topik: perkembangan pra-natal dan neo-natal; perkembangan motorik; perkembangan tempramen, kelekatan (attachment), dan kepribadian; perkembangan agresi atau altruisme; perkembangan kognitif dan sosio-emosional; struktur keluarga dan gaya pengasuhan orang tua; penalaran moral dst. Akhir-akhir ini ahli psikologi perkembangan sudah mulai mengkaji semua rentang hidup.

Dalam tulisan ini  akn diterangkan sekilas tentang empat area perkembangan dari sudut lintas budaya: tempramen, kelekatan, gaya pengasuhan orang tua dan struktur keluarga, serta penalaran moral. Pada tulisan ini terfokus pada anak yang sedang tumbuh ketimbang pada tahap perkembangan yang lebih lanjut.

Michael Lamb (1992), saat mendiskusikan beberapa penelitian lintas budayanya, melontarkan komentar bahwa salah satu keterbatasan dalam beberapa penelitian perkembangan yang direviewnya untuk dianalisia ulang adalah bahwa sampel-sampel yang dipakai sangat terdistorsi karena kebanyakan subjeknya adalah anak dari para profesional perguruan tinggi yang tidak lain adalah anak-anak dari para peneliti dan teman-temannya sendiri.

Masa anak-anak adalah periode yang penuh perubahan dan fluktuasi serta lebih banyak mendapat pengaruh kultural dan lingkungan dibanding dengan periode-periode yang lain. Diseluruh dunia, orang melewati masa anak-anak dengan harapan bisa menjadi orang dewasa yang bahagia dan produktif. Namun arti persis bahagia dan produktif akan berbeda-beda dari satu budaya ke budaya yang lain. Tiap kebudayaan memiliki pengetahuan dan kompetensi-kompetensi dewasa apa saja yang dibutuhkan untuk dapat berfungsi secara memadai (Ogbu, 1981). Kompetensi-kompetensi ini berbeda-beda antarbudaya dan lingkungan, dan anak-anak tersosialisasi dalam ekologi-ekologi yang mendorong berkembangannya kompetensi tertentu (Harrison, Wilson, Pine, Chan,& Buriel, 1990).

Karena sulitnya penelitian perkembangan, sampel-sampel yang digunakan sering kali kecil. Dalam beberapa kasus penelitian dengan sampel kecil menjadi dasar banyak sekali penelitian selanjutnya, bagai sebuah piramid yang besar terbalik yang berdiri diatas puncaknya. Inti dari diskusi ini nanti adalah bahwa kita tidak bisa berasumsi bahwa penelitian yang dilakukan ekologi-ekologi yang terbatas dan homogen akan mempunyai relevansi yang sama dengan untuk budaya-budaya lain. kita akan membahas satu persatu variabel psikologi perkembangan yang telah diteliti oleh para ahli psikologi lintas budaya:

1. Tempramen.

Tempramen dipandang sebagai gaya interaksi dengan dunia atau kualitas-kualitas responsif terhadap lingkungan yang berakar pada biologi dan sudah ada sejak lahir. Thomas dan Chess (1977) menggambarkan ada tiga kategori utama tempramen; gampangan, sulit, dan lambat-untuk-memulai (slow-to-warm-up). Interaksi antara tempramen anak dengan tempramen orang tua tampaknya merupakan salah satu ciri perkembangan kepribadian, konsep ini disebut “tingkat kecocokan” atau “goodness of fit”.

Reaksi orang tua terhadap tempramen anak akan mempengaruhi kestabilan dan ketidakstabilan dalam respon-respon tempramental anak terhadap lingkungan, dan juga akan berdampak pada kelekatan (attachment) setelah itu. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh para peneliti lintas budaya adalah apakah anak-anak dari kebudayaan non-Amerika secara umum punya gaya tempramen yang berbeda-beda dengan anak-anak Amerika. Freedman (1974), misalnya, menemukan bahwa bayi-bayi Cina-Amerika dan Jepang-Amerika lebih tenang dan gampangan dibanding bayi-bayi Kaukasi-Amerika. Chisholm (1983) seorang peneliti yang banyak mendalami Navaho berpendapat bahwa ada hubungan antara yang kuat antara kondisi ibu hamil (khususnya tekanan darah tinggi) dengan iritabilitas (sifat mudah marah) bayi. Hubungan antara tekanan darah dengan ibu dengan sifat mudah marah bayi ini juga dijumpai pada bayi-bayi Malaysia, Cina, Aborigin, orang kulit putih Australia (Garcia Coll, 1990). Garcia Coll, Sepkoski, dan Lester (1981) menemukan bahwa perbedaan kondisi kesehatan ibu-ibu di Puerto Rico selama masa kehamilanjuga terkait dengan perbedaan dalam tempramen bayi mereka bila dibandingkan dengan bayi Kaukasia-Amerika atau Afrika-Amerika. Bayi-bayi Puerto Rico lebih awas dan tidak mudah menangis; bayi-bayi Afrika-Amerika mendapat skor yang lebih tinggi dalam kemampuan motorik perilaku-perilaku yang melibatkan gerakan dan koordiansi otot.

Dengan demikian, perbedaan tempramen yang khas untuk suatu kelompok budaya mungkin mencerminkan perbedaan-perbedaan genetika dan sejarah reproduksi. Tipe-tipe perbedaan yang muncul sejak lahir ini turut berperan dalam perbedaan kepribadian orang dewasa di budaya yang berbeda. Penting sekali untuk menyadari kekuatan pengaruhnya sebagai bahan penyusun perkembangan anggota-anggota dewasa di budaya-budaya di seluruh dunia.

2. Kelekatan. Kelekatan atau attachment adalah ikatan khusus yang berkembang antara bayi dan pengasuhnya.

Studi tentang kelekatan pada monyet-monyet rhesus oleh pasangan Harlow (Harlow & Harlow, 1969) menunjukkan pentingnya sentuhan dan kenyamanan fisik dalam perkembangan kelekatan. Bowlby (1969) menyimpulkan bahwa bayi memiliki dasar biologis yang sudah terprogram sebelumnya untuk menjadi lekat pada pengaruhnya. Program ini mencakup perilaku-perilaku seperti tersenyum dan tertawa yang nantinya memicu perilaku-perilaku yang mendorong terbentuknya kelekatan dari pihak ibu. Ainworth, Blehar, Waters, dan Wall (1978) membedakan tiga gaya kelekatan: aman (secure) yaitu pada bayi yang mempunyai ibu yang hangat dan responsif, menghindar (avoidant) yaitu pada bayi yang mempunyai ibu instrusif (terlalu mencampuri) dan terlalu menstimulasi, dan ambivalen yaitu bayi yang merespon ibu mereka secara tidak pasti berubah-ubah dari mencari dan menolak perhatian ibu ini biasanya terjadi pada bayi yang memiliki ibu tidak sensitif dan kurang terlibat dengan anaknya. Kelekatan ini mendasari konsep kepercayaan dasar (basic trust).

Erikson (1963) menggambarkan formasi kepercayaan dasar sebagai langkah penting pertama dalam proses perkembangan psikososial yang berlangsung seumur hidup. Kelekatan yang buruk adalah komponen dari ketidakpercayaan (miss trust) – kegagalan menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan tahap perkembangan bayi. Salah satu asumsi orang Amerika tentang sifat kelekatan adalah bahwa kelekatan ideal adalah kelekatan aman. Tapi pada kenyataannya masing budaya punya konsep kelekatan yang ideal yang berbeda. Misalnya ibu-ibu di Jerman menganggap penting dan mendorong kemandirian lebih dini dan karena itu menganggap kelekatan menghindar sebagai yang lebih ideal.

Orang tua Jerman memandang anak-anak yang lekat secara aman sebagai anak yang dimanja (Grossmann, Grossmann, Spangler, Suess, & Unzner, 1985). Diantara anak-anak Istrael yang dibesarkan di kibbutz (tanah pertanian kolektif) separuhnya menunjukkan kelekatan ambivalen yang cemas dan hanya sepertiga yang tampaknya lekat secara aman (Sagi, dkk.,1985). Anak-anak yang dibesarkan dikeluarga Jepang trdisional juga dicirikan oleh tingginya kelekatan ambivalen yang cemas, tanpa adanya kelekatan menghindar (Miyake, Chen, & Campos, 1985). Ibu-ibu tradisional ini jarang meninggalkan anak-anak mereka dan mendorong terbentuknya rasa ketergantungan yang tinggi pada anak-anak mereka. Hal ini mendukung loyalitas keluarga yang secara kultural dipandang ideal. Di keluarga-keluarga Jepang non-tradisional dimana para ibu mungkin memiliki karir, pola kelekatan yang ditemui mirip dengan yang ada di Amerika Serikat.

Beberapa penelitian lintas budaya juga menantang pemahaman bahwa kedekatan dengan ibu merupakan syarat untuk terbentuknya kelekatan yang aman dan sehat hal ini diperkuat dengan teori-teori tradisional Amerika. Tapi tidak demikian dengan sebuah suku perambah hutan di Afrika yang dikenal sebagai suku Efe yang menunjukkan sebuah situasi yang amat berbeda dengan apa yang diterima para ahli psikologis sebagai bagian dari kelekatan yang sehat (Tronick, Morelli, Ivey, 1992). Bayi-bayi efe menghabiskan banyak waktu tidak berada dekat dengan ibu dan diasuh oleh beberapa orang. Mereka selalu berada dalam jangkauan pendengaran dan penglihatan sekitar sepuluh orang. Mereka punya ikatan emosional yang dekat dengan banyak orang lain selain ibunya dan menghabiskan hanya sedikit waktu dengan ayahnya. Para peneliti menemukan bahwa anak-anak ini sehat secara emosi meski memiliki banyak pengasuh. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam setiap kebudayaan dalam hal kelekatan anak dengan pengasuhnya.

3. Pengasuhan orang tua, keluarga, dan sosialisasi pengetahuan tradisional.

Baumrind (1971) mengidentifikasikan tiga pola utama pengasuhan orang tua, yaitu orang tua yang otoriter mengharap kepatuhan mutlak dan melihat bahwa anak butuh untuk dikontrol. Sebaliknya, orang tua yang permisif membolehkan anak untuk mengatur hidup mereka sendiri dan menyediakan hanya sedikit panduan baku. Orang tua yang otoritatif bersifat tegas, adil dan logis, gaya pengasuhan ini dipandang akan membentuk anak-anak yang sehat secara psikologis, kompeten, dan mandiri, yang bersifat kooperatif dan nyaman menghadapi situasi-situasi sosial. Peneliti lain (Maccoby & Martin, 1983) menemukan gaya asuh keempat yang disebut “tak terlibat” atau “uninvolved”.

Orang tua yang tak terlibat seringkali terlalu larut dalam kehidupan mereka sendiri untuk bisa memberi respon yang tepat pada anak-anak mereka seiring terlihat tak peduli. Selain dalam keluarga ada lingkungan lain yang akan sangat erat dan dekat dengan anak yaitu sekolah. Disekolah, sebagian besar hidup anak dihabiskan tidak dengan orang tua mereka. Proses sosialisasi yang didasarkanpada hubungan primer dengan orang tua berlanjut dengan teman sebaya dalam situasi bermain disekolah.

Sosialisasi adalah proses instrumental dengan mana anak menginternalisasikan nilai-nilai dan sikap-sikap kultural. Kondisi lingkungan ekonomi merupakan salah satu hal mempengaruhi pola pengasuhan selain itu kondisi-kondisi disetiap budaya-budaya yangt berbeda-beda akan menghasilkan proses sosialisasi yang berbeda pula dan bukan hanya itu saja keyakinan budaya setempat juga akan mempengaruhi pola pengasuhan anak. Seorang ibu di Brazil yang hidup di permukiman kumuh yang disiang hari meninggalkan tiga balitanya dalam ruangan gelap untuk mencari makan dan pakaian, mungkin ini terlihat kejam dari suddut pandang kita. Akan tetapi tidalah bijak jika memandang hal tersebut dengan parameter budaya kita sendiri. Di Cina ada praktik dimana bayi-bayi yang masih berusia beberapa minggu tinggal ibunya untuk pergi berladang dalam jangka waktu yang cukup lama. Bayi-bayi tersebut dibaringkan di sak-sak pasir yang lebar dan menyokong tubuh mereka sekaligus bertindak sebagai popok penyerap. Tak butuh waktu yang lama untuk bayi berhenti menangis karena menyadari bahwa tindakannya itu tidak menghasilkan respon apa-apa.

Levine (1977) mengajukan teori tentang lingkungan pengasuhan merupakan pencerminan dari seperangkat tujuan yang tersusun berdasarkan urutan nilai pentingnya. Yang pertama adalah kesehatan fisik dan pertahanan hidup (survival), selanjutnya adalah perilaku-perilaku yang mengarah pada pemenuhan diri dan yang terakhir adalah perilaku-perilaku yang mendukung nilai-nilai kultural lain seperti moralitas dan prestise. Pengasuhan anak dalam struktur keluarga extended (keluarga besar) maka selain lingkungan umum maka lingkungan tempat pengasuhan, serta struktur keluarga akan mempunyai dampak yang besar pada pengasuhan dan perawatan anak. Di Amerika tahun 1984 31% anak Afrika-Amerika tinggak dalam keluarga extended dan hanya 19,8% saja dari latar belakang ras lain yang hidup dalam keluarga demikan.

Di Amerika Serikat, keluarga-keluarga dari etnis minoritas digambarkan lebih luas atau extended dan lebih konservetif dibanding keluarga Kaukasia-Amerika. Misalnya keluarga Jepang-Amerika tergolong keluarga extended atau luas dengan peran-peran usia dan jenis kelamin yang tegas, dan menekankan pada kepatuhan anak pada figur-figur otoritatif (Trankina, 1983; Yamamoto & Kubota, 1983) Meski ibu dipandang sebagai pengasuh utama, dalam situasi extended anak sering berinteraksi dengan kakek-nenek, orang tua angkat (godparent), saudara kandung dan sepupunya. Bagi keluarga Hispanik Filipina godparent dianggap sebagai model yang penting, mereka juga sumber dukungan bagi orang tua. Di Amerika hal seperti ini lebih dianggap sebagai konsekuensi dari kondisi ekonomi yang buruk, bukan sebagai cara pengaturan yang diinginkan. Dari banyak anak-anak yang terlahir dari single mother atau ibu tunggal, disini keluarga extenden berperan besar dalam pengasuhannya. Menjadi orang tua saat masih remaja juga memaksa kita untuk berpikir secara berbeda tentang konsep tradisional tentang orang tua. Kehadiran nenek kandung dalam keluarga seperti itu dapat menghilangkan dampak-dampak negatif yang dikaitkan dengan pengasuhan oleh ibu remaja (Garcia Coll, 1990). Selain itu nenek merupakan sumber informasi pengalaman dalam pmengurus anak.

4. Penalaran moral

Teori yang dominan tentang perkembangan moral dalam psikologiadalah teori dari Kohlberg(1976; 1984). Teori Kolhberg didasarkan pada karya-karya Piaget sebelumnya tentang perkembangan kognitif. Ada tiga tahap pekembangan moral menurut teori Kohlberg: pra konvensional yaitu penekanan pada kepatuha terhadap aturan untuk menghindari hukuman atau untuk menerima hadiah. Kedua adalah konvensional, dengan penekanan terhadap formalitas pada peraturan yang ditentukan oleh persetujuan orang lain atau peraturan masyarakat. Ketiga pasca konvensional yakni penekanan pada penalaran moral menurut prinsip dan hati nurani individu.

Beberapa peneliti mengkritik teori kohlberg karena memuat bias-bios kultural tersebut (Bronstein & Paludi, 1988). Miller dan Bersoff(1992), misalnya membandingkan bagaimana subjek di India dan di Amerika merespon suatu tugas penilaian moral.

Snarey (1985) mengulas penelitian mengulas penelitian-penelitian penalaran moral yang melibatkan subjek dari 27 negara. Snarey menyimpulkan bahwa penalaran moral jauh lebih khas-budaya dari pada yang diajukan Kohlberg. Teori Kohlberg, serta metodologi penyekoran tahapan moral berdasarkan penalaran verbal, mungkin tidak dapat melihat adanya tingkat-tingkat moralitas yang lebih tinggi dari budaya-budaya lain.

Bedasarkan bahasan pada tulisan ini maka dapat diketahui bahwa pemahaman-pemahaman kita tentang tempramen, kelekatan, peran sebagai orang tua, pengasuh anak, stuktur dan lingkungan keluarga, dan penalaran moral dibentuk oleh konteks kultural dimana perkembangan itu terjadi. Penelitian lintas budaya tentang perkembangan membuat kita menyadari berbagai akar perbedaan kultural yang ada dalam kehidupan orang dewasa.

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: