SERUAN TAUHID UNTUK IDEOLOGI (Interpretasi pemikiran Sayyid Quthb dalam Ma’alim Fi Ath-Thariq) Oleh: Husni Mubarok & Supriyono As Soka

Islam hadir dengan konsepsi yang bersahabat dengan penemuan-penemuan ilmiah di muka bumi, karena Islam memang memberikan ruang bagi kreatifitas ilmiah. Umat Islam adalah sekelompok manusia yang kehidupan, konsepsi, sikap, tatanan, nilai-nilai, dan pertimbanganya terpancar dari manhaj Islam. Dengan tata aturan apapun selain aturan Islam, sebagaian manusia memperbudak sebagaian lain dalam bentuk perbudakan tertentu. Sementara hanya dalam manhaj Islamlah, manusia terbebas dari segala bentuk perbudakan sesama manusia. Hanya dalam manhaj Islamlah, manusia terbebas dari segala bentuk perbudakan sesama manusia dalam manhaj ini manusia hanya menhambakan diri pada Allah, menerima sesuatu dari Allah semata dan tunduk hanya kepdaNya.

Refrensi utama yang diadopsi oleh generasi pelopor adalah Al-qur’an. Hanya Al-qur’an semata adapun sabda-sabda dan petunjuk Rasullullah SAW hanyanlah merupakan satu dari beberapa konsekuensi yang bersumber dari Al-qur’an. Tak ada seorangpun sahabat meminta banyak-banyak penyampaian Al-qur’an pada satu majelis. Karena ia merasa yang demikian itu hanya akan memperbanyak kewajiban-kewajiaban dan aturan-aturan agama yang membebani pundaknya.

Seseorang tatkala masuk Islam, berarti harus menanggalkan kesesatanya, yakni semua yang dilakukanya sesama jahiliyah. Kita sekarang berada dalam suatu kejahiliyahan sebagaimana jahiliyah yang sekarang dengan Islam, atau malah lebih mengenaskan. Semua yang ada di sekeliling kita adalah jahiliyah.

La illaha illallah adalah sebuah revolusi kekuasaan (makhluk) bumi yang telah merampas hak-hak ketuhanan yang paling utama. Thaghut tetaplah thaghut…!!! Bumi ini adalah milik Allah, dan wajib dibebaskan demi Allah. Dan bumi ini tidak akan demi Allah, kecuali dikibarkan panji La illaha illallah.

Moralitas haruslah berlandaskan aqidah. Aqidahlah yang menyusun konsideran dan menetapkan nilai-nilai moralitas. Satu janji itu adalah surga inilah yang dijanjikan untuk mereka yang telah berjihad, yang didera duka dan kegetiran, yang berjuang mati-matian di jalan dakwah. Ketika telah terpatri aqidah La illaha illallah di relung hati yang paling dalam seketika itu pula menjadi mapanlah tatanan yang mencerminkan La illaha illallah.

Islam bukanlah teori belaka yang bergumul dengan hipotesa. Islam adalah manhaj yang bersentuhan langsung dengan realitas. Suatu aqidah haruslah memenuhi relung hati dan menguasai sanubari. Aqidah menghendaki manusia tunduk sepenuhnya hanya kepada Allah dan hanya mau menerima hukum-hukum Allah, tidak yang lain.

Landasan dakwah adalah menerima syariat Allah apapun adanya dan menolak syariat lain apapun wujudnya. Beginilah Islam, pada hakikatnya. Islam tidak memiliki makna lain di luar makna ini. Konsepsi Islam bersifat teoritis sekaligus realistis. Konsepsi Islam bukanlah teori yang lepas dari realitas, akan tetapi mengejawantah dalam realitas yang dinamis. Kita tidak akan mampu pada konsepsi Rabbani dan juga mencapai kehidupan Rabbani, kecuali dengan cara menempuh manhaj pemikiran yang Rabbani. Islam datang untuk mengembalikan manusia juga alam semesta yang melingkupi manusia kepada kedaulatan Allah. Upaya untuk mengikis kejahiliyahan dan mengembalikan kepada Allah semata tidaklah cukup, bahkan tidaklah berdaya guna bila berupa teori semata.

Manhaj Islam adalah masyarakat terbuka (open society) untuk semua suku, bangsa, dan warna kulit, tanpa terkendala oleh sekat-sekat fisik yang sempit. Mereka yang tidak menerapkan manhaj Islam adalah mereka yang tidak ingin manusia mengembangkan diri dengan potensi khususnya yang luhur seperti yang difitrahkan oleh Allah di dunia ini.

Gerakan apapun sama saja dalam manhaj Islam ini, asalkan proaktif berupaya melepaskan manusia dari pengabdian (ubudiyah) kepada hamba menuju pengabdian kepada Allah semata. Sejatinya, Islam merupakan proklamasi pembebasan manusia di bumi dari ketundukan kepada makhluk termasuk juga ketundukan kepada hawa nafsunya.

Kerajaan Allah bisa tegak apabila syariat Allah menjadi pemerintahnya, dan sumber ketentuanya ada di tangan Allah sesuai dengan aturan yang jelas yang telah ditetapkan-Nya. Sesungguhnya agama ini bukanlah sebuah prolamasi pembebasan manusia bangsa Arab, bukan pula sebuah misi khusus untuk komunitas Arab. Sasaran proklamasi ini adalah manusia.. ras manusia dan medannya adalah bumi seluruh (penjuru) bumi. Termasuk keniscayaan sejarah, kebenaran dan kebalkhtilan selamanya tidak bisa hidup berdampingan di bumi.

Bukankah manusia sejatinya menyembah pada Allah semata? Mestinya tidak ada seorangpun hamba yang boleh mengendalikan mereka dengan kekuasaan (power) yang dimilikinya dan dengan aturan hawa nafsu dan pikiranya. Sebelum bertolak jihad ke medan perang, seorang muslim semestinya telah menjeburkan diri dalam jihad akbar melawan syetan di dalam dirinya sendiri, yakni menepis hawa nafsu dan syahwatnya.

Islam selalu bergerak maju untuk menyelamatkan insan di bumi dari ketundukan selain Allah, ia tidak boleh berhenti pada batas-batas geografis, tidak pula mengisolasi diri dalam sekat-sekat etnis. Sudah semestinya, Islam mulai mengambil inisaiatif gerakan. Karena Islam bukanlah suatu kaum dan bukan pula aturan yang berlaku dalam suatu daerah. Siapapun yang mengaku dirinya mempunyai otoritas menetapkan undang-undang bagi manusia, berarti ia telah mengklaim ketuhanan dirinya secara implisit maupun eksplisit, entah ia mengklaim itu dengan ucapan ataupun tanpa ucapan. Individu-individu yang hatinya telah steril dari penghambaan selain kepada Allah, hendaknlah bersatu dalam sebuah komunitas Islam.

Masyarakat jahiliyah adalah setiap masyarakat selain masyarakat muslim jika hendak mendefinisikan secara objektif ia adalah setiap masyarakat yang tidak memurnikan penghambaanya kepada Allah semata. Sebagian masyarakat jahiliyah ada yang terang-terangan menyatakan dirinya sebagai masyarakat sekuler dan lepas sama sekali dari hubungan dengan agama. Ada juga yang menyatakan bahwa mereka menghargai agama, tetapi meraka justru meluarkan agama dari tatanan sosial sekali. Siapapun yang mengklaim bahwa kepentingan manusia menurut pendapatnya tidak sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah, maka sedikitpun ia tidak berada dalam agama ini dan tidak pula termasuk pemeluknya.

Sesungguhnya dibalik eksistensi alam ini ada kehendak yang mengaturnya, kekuatan yang menggerakanya, dan hukum yang menertibkanya. Hanya ada satu kebenaran tidak lebih. Yaitu hukum kosmis yang universal, yang diperuntukan oleh Allah bagi alam semesta ini dalam segala kondisi. Tidaklah termasuk masyarakat Islami, masyarakat yang mewadai orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai kaum muslim, sementara syariat Islam tidak menjadi undang-undang (Qonun) masyarakat tersebut meski meraka menunaikan shalat, puasa, haji ke baitulllah. Masyarakat yang mewadai manusia berhimpun atas kepentingan di luar naluri kemanusianya maka itulah masyarakat yang terbelakang (almujtama’ mutakhallif) atau dalam terminologi Islam disebut masyarakat jahiliyah.

Ketika tugas wanita hanya bersolek, merayu, dan merangsang nafsu disinilah terletak “keterbelakangan peradaban” atau “kejahiliyahan”. Hendaknya manusia berhukum dengan syariat Allah semata dalam sendi kehidupanya dan menghindari berhukum dengan selain syariatnya. Harakah tidak akan membiarkan seseorang berdiam diri. Setiap individu anggota masyarakat ini harus berinisiatif harakah.

Bangsa Eropa memotong mata rantai metodologi yang diadopsinya dari dasar-dasarnya yang berhasil dari dogma Islam, kemudian menjauhkanya sama sekali dari Tuhan. Ilmuan yang tidak mengindahkan peringatan Allah dan hanya menginginkan kehidupan duniawi saja… tidak bisa menghadirkan kredibilitas. Termasuk kekeliruan yang fatal adalah berkiblat berkiblat pada metodologi barat pemikiran barat, berikut produk-produknya dalam kajian keislaman.

Hanya ada satu macam negara yang bisa menopang pemerintahan yang Islami, yaitu negara Islam (Darul Islam). Tatkala aqidah sudah berlainan maka terurailah satu ikatan kerabat dan terbagilah yang satu, karena yang menjadi kata kunci adalah ikatan aqidah. Negara Islam diperuntuhkan bagi orang yang mau menerima syariat Islam sebagai tatanan, meski ia bukan seorang muslim. Islam tidak didasarkan pada hubungan tanah kelahiran atau kesukuan, tidak pada ikatan keturunan ataupun pernikahan, dan tidak pula jalinan kabilah ataupun kerabat. Islam tidak akan tegak di bumi yang tidak dikendalikan oleh Islam dan syariatnya.

Hanya ada dua alternatif: Islam atau jahiliyah. Tidak ada pilihan lain, “setengah Islam, setengah jahiliyah”. Islam cukup dikatakan Islam, titik. Islam memiliki kepribadian, konsespsi, dan aturan main sendiri. Islamlah yang akan mewujudkan semua cita-cita kemanusian dan aturan mainya. Keterpurukan yang selama ini dialami umat manusia tidak akan terobati hanya dengan reformasi kecil-kecilan dalam beberapa bagian kecil dari berbagai sistem dan aturan main.

Peradaban-peradaban sekarang yang telah membuat kagum banyak orang dan mempengaruhi jiwa mereka tidak lain merupakan bagian dari sistem jahiliyah yang serba kurang dan rendah bila dibandingkan dengan sistem Islam. Seseorang tidak disebut muslim, meski ia mengaku muslim, manakala ia masih menajalankan praktek jahiliyah. Jahilayah merupakan genre tersendiri yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Jika ahlul jahiliyah tidak ingin berubah, tidak ada jalan lain kecuali kita katakan pada mereka sebagaimana di tegaskan oleh Allah dan RasulNya: “bagi kalian agama kalian, dan bagi kami agama kami”. Seorang mukmin yang memandang umat manusia yang tersesat dengan berjiwa besar, penuh rasa empati dan iba atau kesenangan dan kesesetan mereka.

Jahiliyah bukan suatu masa sejarah, melainkan situasi dimana masyarakat terus menerus menyimpang dari manhaj Islam dan ini bisa terjadi pada masa silam, masa kini, ataupun masa yang akan datang. Seseorang mukmin akan memegang erat agamanya bagaikan menggegam bara api di tengah masyarakat yang jauh dari agama, kehormatan nilai luhur, dan cita-cita yang tinggi. Islam identik dengan kerja keras dan sikap prihatin serta perjuangan dan mati syahid.

Walaupun kesesatan sedang berkuasa kesesatan memiliki benteng dan tembok besar, serta masa pengikut yang banyak, hal ini tidak akan mengubah kebenaran sedikitpun. Pendirian mereka lantas tidak goyah meski di bawah penindasan penguasa yang kejam juga tidak tercerabut dari agama Allah meski merekla di bakar bara api hingga mati. Betapa rapuhnya hidup tanpa keyakinan, betapa beratnya hidup tanpa kebebasan dan betapa merananya hidup ketika jiwa-jiwa di belenggu oleh orang-orang lalim yang membelenggu kebebasan diri.

Biarlah Allah yang menentukan nasib dakwah para dai sesuai kehendakNya yang penting, di tengah perjalanan yang keras, yang penuh tengkorak dan duri serta keringat dan darah jangan sampai mereka melenceng. Sesungguhnya perseteruan kaum mukmin dari lawan-lawan mereka pada dasarnya mutlak merupakan perseteruan keyakinan (theology war), bukan yang lain. Dalam perseteruanya, musuh-musuh kaum mukmin kadang mengibarkan bendera- bendera di luar aqidah sebagai kedok. Bisa berupa bendera politik, ekonomi atau etnis.

“telunjuk yang senatiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat menolak untuk menuliskan barang satu huruf atau menyerah kepada rezim thawaghid”

(Perkataam Sayyid Quthb sesaat sebelum digantung di tiang gantungan 20 Agustus 1966.)

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: