BERHARAP DAN BERARAH (Mengapa Manusia Masih Selalu Punya Harapan)

Pendahuluan.

Kepribadian sebagai cara khas seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku yang terbentuk dari peta kognitif (sistem persepsi yg integral dan dinamis) dari lingkungan.  Setiap sikap dan perilaku kita sangat ditentukan oleh pribadi dan persepsi diri terhadap realitas. Jika menurut Freudian perilaku menusia dipengaruhi oleh ketidaksadaran dimana pemenuhan kebutuhan Das Es (Id) sebagai dorongan utama. Berbeda dengan behavioralisme Pavlov dan Skiner yang memandang bahwa sikap dan perilaku dipengaruhi oleh lingkungan (Stimulus-Respon), sedangkan para tokoh Humanisme seperti Abraham Maslow dan Carl Rogers memandang bahwa kehendak bebas, spontanitas  sebagai dorong dalam sikap dan perilaku.

Semua hal ini adalah bagaimana para tokoh Psikologi menganalisa apa yang menjadi latar belakang setiap sikap dan perilaku. Secara psikologis setiap perilaku memang mempunyai penjelasan secara teoritis. Dalam kehidupan kita setiap perilaku juga mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Hal ini yang ingin coba dipaparkan dalam tulisan ini, apa tujuan kita melakukan sesuatu?

Tujuan dan harapan

Setiap perilaku manusia mempunyai motif (dorongan). Menurut tokoh behavioral  setiap perilaku yang merupakan respon atas stimulus tergantung kepada intensitas stimulus yang diberikan. Tapi bagi Freudian perilaku seseorang sangat dipengaruhi oelh dorongan bawah sadar dan dorongan terbesar pada manusia adalah libido. Para penganut humanisme tentunya banyak akan menolak pendapat diatas, bagi mereka perilaku lebih didorong oleh pengalaman manusia masa lalu, konteks kekinian dan kehendak bebas.

Semua teori mainstream mempunyai cara melihat tujuan sebuah sikap dan perilaku. Masalah terpenting adalah apa yang menyebabkan sebuah tujuan memunculkan motiv pada diri manusia. Hal ini tentunya terkait dengan harapan yang ingin dicapai oleh seseorang dalam bersikap dan berperilaku.

Tujuan yang ingin dicapai dan harapan yang ingin diraih erat kaitannya dengan keinginan yang sangat dalam diri seseorang. Hal yang perlu kita lihat adalah ambisi yang merupakan akumulasi dan kritalisasi dari kesemuanya. Ketika keingin memuncak dan harapan sudah tak terbendung, sedangkan dari dalam individu tidak memiliki kemampuan untuk meredamnya muncullah yang kita sebut dengan Frustasi.

Frutasi merupakan sebuah kondisi dimana seseorang menghadapi hambatan dalam pencapaian tujuan atau harapan dan dia tidak mampu untuk mengatasi hambatan. Kondisi semacam ini jika tidak segera diselesaikan dalam kurun waktu +/- 3 bulan secara berturut-turut maka akan masuk pada stadium berikutnya yaitu depresi.

Pengaruh tujuan dan harapan bagi perilaku seseorang sangat besar. Hal terpenting sebuah tujuan adalah apakah benar-benar itu yang saat ini kita inginkan ataukah hanya hasrat sesaat tanpa ada sebauh kesadaran atas pilihan?

Hal terpenting adalah mengerti betul tentang apa yang menjadi tujuan manusia dalam sebuah perbuatan dan sebuah pilihan. Karena tujuan akan mempengaruhi orientasi hidup seseorang. Seorang yang hidup dengan sebuah orientasi yang jelas maka dalam setiap hal dalam hidup yang dilakukannya dengan terencana, walaupun hasil itu kehendak Tuhan tapi rencana adalah bentuk usaha terlebih lagi itu adalah life map seseorang.

Kehilangan tujuan dan harapan adalah musibah terbesar yang bisa menyapu semua sendi dan aspek kehidupan. Harapan adalah alasan kenapa manusia mau melangkah, tujuan adalah alasan manusia memiliki arah.

Kesimpulan

Pada akhirnya setiap perilaku manusia dilandaskan pada motif dasarnya, karena merupakan titik awal setiap perilaku. Freudian berpendapat motif awal adalah pemenuhan kebutuhan id dan dorongan bawah sadar manusia, Behavioris akan berpendapat bahwa itu muncul karena respon atas stimulus (rangsangan) jadi motif awal perilaku adalah merespon, para humanis akan mengatakan ini perilaku adalah bentuk manefestasi dan aktualisasi.

Apapun argumentasinya, harapan atas setiap perbuatan (perilaku) sangatlah penting. Harapan muncul karena pengetahuan manusia terhadap konsekuensi atas perilakunya. Jika sama sekali tidak memiliki pengetahuan awal dan dengan ini seseorang berasumsi bahwa setelah melakukan sesuatu maka hasilnya adalah begini dan begitu, maka tiada seorangpun akan berbuat apa-apa. Sebab hidup adalah perbuatan dan setiap hembusan nafas adalah cita.

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

5 Responses to BERHARAP DAN BERARAH (Mengapa Manusia Masih Selalu Punya Harapan)

  1. gadisjeruk mengatakan:

    mas jare mbah Nietzsche “Hope is the worst of evils, for it prolongs the torment of man” lho.. hahhaa :))

    • Husni mengatakan:

      bagi Nietzsche tergolong tokoh eksistensialis dalam prikologi,setiap perilaku ada motif dan tujuan. Nihilism itu adalah harapan buat Nietzsche.

  2. Kun Nurachadijat -National NDPier of HMI mengatakan:

    Great..mantap. Upaya memberikan “air” di tengah “dahaga” permasalahan kejiwaan yg tengah menyapu bersih akal sehat masyarakat Indonesia pada umumnya kini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: