ILMU INTEGRALISTIK (Pengantar Menuju Pengilmuan Islam Kuntowijoyo)

Pengantar

Diskursus tentang hubungan antara Islam dan ilmu pengetahuan modern sudah berlangsung cukup lama. Berawal dari pidato  Ernest Renan di Sorbone Paris tahu 1883 tentang Islam sebagai agama yang anti ilmu. Hal ini menimbulkan reaksi dari Jamaludin Al Afghani dengan seruan kesadarn kolektif sebagai umat Islam.

Diskursus semakin komplek pada paruh abad ke 21, tidak hanya hubungan Islam dengan ilmu tapi juga kaitan antara Islam dengan keseluruhan pengetahuan modern beserta pekakas metodelogis dan premis-premis yang membentuknya. Perkembangan ini berimplikasi pada perubahan secara mendasar pandangan dunia Islam. Gagasan sains Islam dari Ziauddin Sardar dan juga pemikiran tentang Islamisasi pengetahuan Naquib al Attas yang kemudia diusung Isma’il Raji Al-Faruqi pada dasarnya berintikan sebagai upaya mengembalikan pengetahuan pada asal muasalnya yakni kepada agama, keimanan dan lebih khusus lagi pada Tauhid.

Pemikiran Kuntowijoyo tentang Islam sebagai ilmu berkaitan kuat dengan ijtihad dari para intektual pendahulunya. Namun Kuntowijoyo tidak mau terhanyut dalam euphoria respon yang cenderung bersifat reaktif. Berangkat dari keprihatinan atas sifat reaktif dari gagasan Islamisasi pengetahuan, Kuntowijoyo menawarkan suatu penyikapan yang baru melihat hubungan antara agama (Islam) dan ilmu.

Teks Menuju Konteks

Pada umumnya kaum intelektual melihat melihat dari konteks menuju teks. Kuntowijoyo memberikan pendapat berbeda dengan mindstream yang ada, menurutnya gerakan intelektual Islam harus bergerak dari teks menuju konteks. Ikhtiar keilmuan ini bersendikan pada tiga hal[1]:

–       Pengilmuan Islam sebagai proses keilmuan yang bergerak dari teks Al-Qur’an menuju konteks sosial dan ekologis manusia.

–       Paradigma Islam adalah hasil keilmuan, yakni paradigma baru tentang ilmu integralistik sebagai penyatuan agama dan wahyu.

–       Islam sebagai ilmu yang merupakan proses sekaligus sebagai hasil.

Melalui tiga sendi inilah, Kuntowijoyo mendorong perlunya pengembangan ilmu-ilmu sosial profetik yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberikan petunjuk kea rah mana, untuk apa, dan oleh siapa suatu transformasi harus dilakukan.

Hasil dari pengilmuan Islam adalah paradigma Islam sebagai cara pandang Islam tetang realitas. Hal ini diperlukan karena ilmu budaya dan sosiologi pengetahuan, realitas tidak dilihat langsung oleh orang, tetapi melalui tabir (kata, budaya, simbol, budaya, persetujuan masyarakat). Tabir membentuk framing/ pembingkaian yang merupakan relasi citra dan dunia[2]. Paradigma Islam adalah undangan untuk menjadikan postulat agama (Al-Qur’an dan As Sunnah) menjadi teori ilmu. Sebagaimana ilmu didapat memalui kontruksi pengalaman sehari-hari secara terorganisir dan sistematis. Maka norma agama sebagai pengalaman manusia juga dapat dikonstruksi menjadi ilmu.

Islamisasi Pengetahuan vs Pengilmuan Islam

Islamisasi  pengetahuan berupaya mengembalikan pengetahuan pada pusatnya, yaitu tauhid.  Dari tauhid aka nada tiga macam kesatuan, kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Selama umat Islam tidak mempunyai metodologi sendiri, maka umat Islam akan selalu dalam bahaya. Hal ini karena metodologi ilmu sekuler yang antroposentris menghilangkan agama sebagai salah satu sumber dari pengetahuan. Islamisasi pengetahuan berusaha mengembalikan ilmu pada tauhid supaya ada koherensi antara konteks dengan teks dan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari keimanan[3].

Permasalahan dari Islamisasi pengetahuan bagi kuntowijoyo adalah bagaimana kedudukan pengetahuan dalam Islam, bukankah pengetahuan adalah kebudayaan dan kebudayaan adalah muamalah. Karena muamalah maka rumusannya adalah “semuanya boleh kecuali yang dilarang”. Jika pengetahuan sudah sangat egoistik (secara berlebihan) mengklaim kebenaran maka statusnya tidak lagi sebagai muamalah.

Islam mengakui objektivitas, maka ilmu yang benar-benar objektif tidak perlu di Islamkan, suatu teknologi akan sama ditangan orang Islam atau orang kafir. Metode dimanapun sama, apakah itu metode survey, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman tanpa resiko bertentangan dengan keimanan. Maka tidak perlu ada kekhawatiran pada ilmu-ilmu yang benar-benar objektif dan sejati. Islamisasi pengetahuan sebagian perlu dan sebagian adalah pekerjaan yang tidak berguna kata Kontowijoyo.

Menurut Arthur Koestler dalam pengetahuan dan kesenian ada rentang dari objektif-verifiable sampai ke subjektif, rentang itu ialah kimia, biokimia, kedokteran, psikologi, antropologi, sejarah, biografi, novel, epic, dan lirik[4]. Untuk ilmu yang benar-benar objektif kiranya sangat bergantung pada niat individu, maka niat individu itu yang memerlukan Islamisasi bukan ilmunya.

Kuntowijoyo menawarkan pengilmuan Islam dengan alasan bahwa kita perlu memahami Al-Qur’an sebagai paradigma yang berarti memungkinkan kita untuk memahami realitas sebagaimana Al-Qur’an memahaminya. Ini bertujuan agar kita memiliki hikmah yang atas dasarnya dapat dibentuk perilaku yang sejalan dengan norma Al-Qur’an baik dilevel moral maupun sosial. Sehingga paradigm Islam bisa memberikan wawasan aksiologis dan sekaligus berfungsi sebagai wawasan epistemologis.

Pengilmuan Islam menggunakan metode integralisasi sebagai jawaban atas sekularisme. Ilmu integralistik menyatukan (bukan sekedar menggabungkan) wahyu Tuhan dan dan temuan pikir manusia yang tidak akan mengucilkan Tuhan atau mengucilkan manusia[5]

Agama → Teoantroposentrisme→Dediferensiasi→Ilmu Integralistik

Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dirinya sendiri dan lingkungan, petunjuk etika sekaligus Grand Theory. Selanjutnya adalah teoantroposentrisme yaitu Islam mengakui dua sumber ilmu pengetahuan baik dari wahyu dan berasal dari manusia. Kemudian adanya dediferensiasi sebagai penyatuan kembali sektor-sektor kehidupan termasuk agama dan ilmu[6].

Periode Sumber Etika Proses Sejarah Ilmu
Barat Modern Akal Humanism Diferensiasi Sekuler otonom
Islam Pasca-Modern Wahyu-Akal Humanism-Teosentris Dediferensiasi Integralistik

Obejektifikasi dalam ilmu integralistik bermula dari internalisasi nilai tidak dari subjektifikasi menuju objektifikasi. Obejektifikasi yang dimaksud adalah penerjemahan nilai-nilai internal kedalam kategori-kategori objektif. Objektifikasi dalam ilmu integralistik ada terminology eksternalisasi yang diartikans sebagai kontekstualisasi keyakinan internal, dengan kata lain eksternalisasi adalah proses pengejawantahan keyakian internal (ibadah). Suatu perbuatan disebut objektif bila perbuatan itu dirasakan oleh orang non-muslim sebagai perbuatan yang wajar, tidak sebagai perbuatan keagamaan.

Kesimpulan

            Dari pemaparan diatas maka dapat dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud pengilmuan Islam adalah sebuag konsep ilmu yang integralistik antara wahyu dan akal. Al-Qur’an sebagai kitab suci sekaligus paradigma dalam memandang realitas. Internalisasi keyakinan akan wahyu dan akal sebagai sumber pengetahuan yang disistematiskan menjadi kerangka keilmuan kemudian diobjektifikasi.

Konsep penyatuan seluruh aspek kehidupan sebagai jawaban atas sekulerime yang menjangkit berusaha mengakhir perdebatan antara agama dan ilmu. Islam sebagai agama yang mengakui  dua sumber pengetahuan yaitu manu


[1] Kuntowijoyo, 2007, Islam Sebagai Ilmu, Yogyakarta: Tiara Wacana, hal vi

[2] Yasraf Amir Piliang, 2011, Bayang-Banyang Tuhan Agama dan Imajinasi, Bandung: mizan hal xxxvii

[3] Opcit hal 8

[4] Opcit hal 9

[5] Opcit hal 53

[6] Opcit hal 59

Perihal Husni
Deputy Research Solo Institute-Indonesia || Kader Himpunan Mahasiswa Islam || solo-institute.org

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: